Dalam ekpose lahan kering dilakukan juga panen jagung vairetas Hibrida Nasa 29.Foto : Humas Lotim

Ekpose Lahan Kering IP2TP di Pringgabaya

SATUNUSA.CO, LOTIM– Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Sandubaya lokasi berlangsungnya ekspose teknologi lahan kering.

Kegiatan yang berlangung di Desa Labuhan Lombok, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur,  Rabu, (20/1172019), merupakan  program Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Provinsi NTB, bersama Pemerintah Daerah  Lombok Timur.

Kepala BPTP Balitbangtan NTB, Dr Awaludin Hipi, MSi, menjelaskan, beberapa inovasi teknologi lahan kering, sudah di ujicoba BPTP Balitbangtan NTB, melalui IP2TP Sandubaya. IP2TP tadinya merupakan kebun percobaan.

Tapi setelah Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 93 tahun 2018, IPPTP mengemban tugas sebagai wadah identifikasi teknologi dan diseminasi hasil penelitian dan pengkajian melalui temu teknologi pertanian. Selain itu, sebagai wadah koleksi sumberdaya genetik local, tempat produksi benih jagung, kacang hijau, dan lainnya.

“Yang paling penting, IP2TP ini menjadi tempat agro wisata. Beberapa siswa SMK sampai dengan TK, datang melihat dan mengenal tanaman yang ada,” jelasnya.

Dikatakannya, sesuai arahan menteri pertanian, kedepan pertanian harus Maju, Mandiri dan Modern (3M). Kemudian, bagaimana agar pangan untuk rakyat Indonesia umumnya, NTB dan khususnya Lotim, harus terjamin.

“Pemenuhan pangan ini, tidak menjadi tanggungjawab Menteri Pertanian saja, tetapi menjadi tanggungjawab bersama,” terangnya.

Tahun ini kata Awaludin, Kementan memiliki program Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratan), yang basisnya ada ditingkat kecamatan.

Dalam Kostra Tani ini, terdapat masing-masing pengawas, seperti pengawas bibit tanaman, pengawas bibit ternak dan lainnya, melibatkan semua pihak terkait, termasuk Babinsa, dan Bhabinkamtibmas. Untuk tingkat Kabupaten Kota, induknya adalah Dinas Pertanian, Tingkat Wilayah induknya BPTP Balitbangtan NTB dan Dinas Pertanian, serta tigkat Nasional induknya adalah Kementerian Pertanian.

“Program 100 hari Bapak menteri Pertanian, Kostratan ini ada di 13 Provinsi. Januari 2020 mendatang, akan ada disemua Provinsi, dan kita harus siap-siap menerima program itu. Semua akan termonitor dari pusat,” tandasnya.

Mulai Desember kita satu data mengacu Rencana Depinitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), dan tidak ada lagi data lain. NTB menurut data BPS, memiliki kekurangan luas baku sawah mencapai 43 ribu hektare. Nantinya, semua bantuan akan mengacu pada luas baku sawah sesuai RDKK.

Tidak bisa dipungkiri pula, bahwa setiap tahun ada terjadi alih fungsi lahan.

“Kita lihat sendiri di NTB, lahan kering lebih luas dibandingkan lahan sawah. Khusus Lombok Timur, terdapat 47 ribu hektare lebih lahan kering. Ini perlu sentuhan teknologi, agar dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas produksi,” ungkapnya  seraya berharap dukungan semua pihak termasuk Bupati, agar semua tugas BP2TP terwujud.

Sementara itu, Bupati Lotim HM Sukiman Azmy, dalam sambutannya mengatakan, fakta menunjukkan bahwa, perubahan iklim telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia dan alam.  Meningkatnya temperatur rata-rata permukaan bumi secara global dalam 50 (lima puluh) tahun terakhir, diklaim memberi dampak negatif terhadap sumber air dan pertanian. Lotim, disebutnya merupakan salah satu wilayah yang sangat rentan terhadap perubahan iklim.

“Beberapa indikasi terjadinya perubahan iklim, seperti musim hujan berlangsung lebih pendek, meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, sehingga sangat mempengaruhi produksi pertanian kita,"ujar Sukiman.

Dijelaskan, kalau kilas balik mulai dari berkembangnya konsep revolusi hijau pada akhir decade 60-han, yang dimulai dengan program Bimbingan Massal (Bimas) atau Intensifikasi Massal (Inmas) di NTB, memberikan peningkatan produksi pangan yang signifikan. Sehingga, NTB pada tahun 1984 sudah mampu mencapai swasembada pangan.

“Lombok Timur Sekarang ini sedang berjuang menaikkan IPM. Salah satunya, dengan pengelolaan sumberdaya alam, manusia dan lingkungan secara arif dan bijaksana. Sehingga, secara fisik dapat menjamin kelestarian dan ramah lingkungan. Termasuk, bagaimana mengelola hamparan lahan kering di Lombok Timur ini,”terangnya.

Ia menyebutkan, lahan kering dan yang sudah dimanfaatkan masih sedikit, baru sekitar 15 persen. Sebagian besar potensi lahan itu, sangat cocok untuk tanaman pangan seperti jagung, kacang hijau, bawang merah dan lainnya.

“Adanya program pengembangan pertanian lahan kering ini, akan menyentuh masyarakat miskin secara langsung. Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya,”imbuhnya.

Ia mengungkapkan, inovasi pertanian merupakan salah satu tumpuan pemerintah, dalam menghadapi perubahan pengelolaan lahan kering, dan iklim yang semakin nyata dirasakan perubahannya.

Hadir dalam ekspose IPPTP ini, Kepala Balitbangtan BPTP NTB Dr Awaludin Hipi, MSi, Bupati Lotim HM Sukiman Azmy, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda), Kepala OPD, Camat, Kepala Desa dan petani.

Pada kesempatan itu, Bupati Lotim bersama Kepala BPTP Balitbangtan NTB melakukan panen bibit jagung vairetas Hibrida Nasa 29, meninjau bibit ayam KUB hasil teknologi IP2TP Sandubaya. Bupati juga dalam kesempatan itu, menerima bantuan bibit untuk petani. (Rm. SN)

Facebook Google Twitter