SATUNUSA.CO,LOTIM - Wakil Bupati Lombok Timur H. Moh. Edwin Hadiwijaya saat membuka Bimbingan Teknis Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) dan Mitigasi Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang dilaksanakan Kamis (29/10). 

Wabup menyampaikan ditengah proses transisi penyuluh pertanian, peningkatan kapasitas menjadi penting. Peningkatan kapasitas tersebut dapat dilakukan melalui pembelajaran seperti bimbingan teknis, pelatihan, kursus, dan sebagainya. 

Peningkatan kapasitas itu sejalan dengan optimalisasi peran penyuluh lapangan, sebab penyuluh, jelas Wabup, dituntut menjadi inovator, edukator, dan fasilitator. Ia mengingatkan bahwa penyuluh memiliki peran penting mewujudkan swasembada pangan.

“Ketika Bapak-Ibu ditarik ke pusat tentu ada masa transisi, ada masa transformasi,” jelasnya, “penyuluh itu tidak hanya berlabel edukasi, tetapi bapak ibu juga diminta menjadi innovator, fasilitator. Karena itulah kita perlu meningkatkan kapasitas kita. Kapasitas kita perlu ditingkatkan melalui diklat-diklat, kemudian melalui melalui media yang bisa kita akses di website atau secara langsung seperti ini,” ungkapnya.

Sejalan denga transformasi diberbagai aspek kebijakan pemerintah pusat, Wabup juga mengingatkan pentingnya bank data, sebab data tersebut menjadi rujukan program dan perencanaan pembangunan. Salah satu yang tengah dibangun di Lombok Timur adalah bank data tentang infrasturktur irigasi yang menjadi kewenangan masing-masing wilayah, mulai dari desa, hingga kewenangan pusat.

Pemda, lanjutnya, berupaya agar seluruh pembangunan infrastruktur di daerah ini terkoneksi dan terintegrasi guna mengoptimalkan dana dan manfaatnya, termasuk untuk mendukung ketahanan pangan.

Sebelumnya, Ketua tim kerja pendampingan program wilayah II Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) NTB Darwis mengapresiasi kehadiran Wabup sebagai bentuk dukungan dalam mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan, khususnya di NTB. 

Ia menjelaskan bimtek ini diharapkan dapat mengoptimalkan peran dan fungsi para penyuluh di lapangan. 

Ditambahkannya target PM-AAS di NTB mencapai 28.523 ha. Program tersebut harus benar-benar dilaksanakan guna menjaga tercapainya swasembada pangan berkelanjunjutan. Ia pun mengajak para penyuluh untuk dapat meningkatkan produktivitas lahan dari 5 ton/ha, menjadi 6—7 ton/ha. 

PM-AAS merupakan sistem budidaya padi intensif berbasis teknologi tinggi yang dikembangkan oleh Kementerian Pertanian RI. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi, menekan biaya produksi, dan melipatgandakan hasil panen padi melalui pendekatan presisi.

Di NTB program tersebut didukung oleh 1.092 penyuluh pertanian. Program ini mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 19 Tahun 2026 tentang perubahan tata kerja Kementerian Pertanian. Program dilaksanakan melalui penerapan alat dan mesin pertanian modern seperti Alat Tanam Benih Langsung (Atabela)/ Drum Seeder untuk mempercepat efisiensi tanam dan mendukung swasembada pangan. (*)