Ilustrasi lidah dalam gadget/ Handy

Lidah Dalam Gadget

Ibung meradang. Photonya saat tertidur di kursi teras dishare oleh Abi di grup WA alumni SMA. Pada kisaran waktu 10 menit kemudian, photo itu viral dan segera menjadi trending topik di hampir semua linimasa, mulai facebook, instagram dan twitter.  Tentu saja area trendingnya di sekitar kampung kecil Ibung.

"Ini dah yang namanya kenyanteran (kelewatan-red), memalukan saya di depan semua alumni dan masyarakat," kata Ibung berapi-api di hadapan Ustadz Fakih saat Dia diminta menceritakan kronologis kejadian. "Padahal, hp yang dia pakai untuk njepret saya itu, saya yang kasi ngutang," lanjutnya makin tinggi.

"Terus sekarang antum mau apa,?" selidik Ustadz.

"Gini stadz," jawab Ibung memelankan suaranya sambil mendekat. "Saya mau pinjam uang duaratus ribu untuk ganti uangnya si Abi itu. Hp-nya saya akan ambil. Ndak jadi saya utangin dia."

Ustadz Fakih terperanjat. Sedikit saja. Ia menggelengkan kepalanya. Sedikit juga. "Ente ini gimana, mau merusak perjanjian secara sepihak. Itu keliru. Kekeliruan ente yang kedua adalah marah-marah sambil menuduh, sambil menilai dan menceritakan keburukan teman ente. Seharusnya ente klarifikasi dulu dong ke Abi, kenapa dia berbuat begitu," kata Ustadz Fakih.

"Klarifikasi? Sudah saya coba stadz. Saya call dia dari tadi tapi tidak bisa terhubung.  Dia pasti mematikan hp karena takut pada saya," bela Ibung. Masih dengan gaya berapi-api.

Ustadz Fakih menggeleng. Kali ini agak banyak dibanding gelengan pertama tadi. "Hmm, Bung. Ente lagi-lagi menuduh. Jagalah lidah antum sedikit.  Allah telah mengingatkan kita melalui Surat Qaf ayat 18 yang artinya, Tiada suatu ucapan yang diucapkan melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."

Ibung mulai surut. Seburuk-buruk Ibung, kalau disebutkan ayat, dia pasti mengkerut.  Lembek bagai tak bertulang. Dia diam dengan pandangan menghujam lantai tapi pikiran difokuskan ke Kalimat-kalimat Allah yang akan didengarnya. Siap menjalankan perintah.

"Ingat Bung," lanjut Ustadz Fakih. "Sesungguhnya lidah orang mukmin itu di belakang hatinya.  Apabila dia ingin mengatakan sesuatu, pasti ia sungguh-sungguh telah memahami maknanya, lalu kemudian diucapkannya."

"Selain itu, bahaya lidah adalah berlebihan dalam berkata-kata sehingga terselip kebohongan, mengumpat, membicarakan orang, ingin pamer atau ria, ingin membersihkan diri, permusuhan, sia-sia, menambahkan, mengurangi, menyakiti orang, merusak kehormatan orang dengan membuka hal yang mestinya ditutupi dan lain-lain," sambung Ustadz

"Tapi stadz, gimana kalau Abi itu menyebarkan photo saya ngangak saat tertidur? Bukankah itu maksudnya hendak menceritakan kekurangan saya tapi melalui gambar,?" tanya Ibung pelan.

Ustadz Faqih menghela nafas.  Pendek saja.  Keningnya dikerutkan.  Tidak banyak.  "Gini bung.  Untuk memahami ini kita perlu mengetahui hakekat dari ucapan.  Bahwa ucapan atau lisan itu hanyalah penguat atau pembuktian dari apa yang ada dalam hati.  Sebelum ucapan melewati lidah, keinginan itu telah lahir terlebih dahulu dalam hati. Jadi bunyi yang keluar dari lidah itu adalah bentuk zahir dari keinginan hati untuk berucap," kata Ustadz Fakih pelan. Ibung makin fokus.  Dia khawatir terlewat satu kata sehingga mengurangi tingkat kepahamannya.

"Nah, seandainya ucapan hati itu dizaharkan melalui bentuk tulisan, misalnya pesan WA atau facebook, hakekatnya adalah sama dengan penzaharan melalui lidah.  Hukumnya sama, yang berbeda hanya medianya."

Ibung menganggukkan kepalanya. "Saya ingin bertanya lagi.....," ucapan Ibung terhenti saat deruman sepada motor terdengar keras.  Lalu hening saat mesin motor itu tiba-tiba mati membuat pengendaranya kelabakan menjaga keseimbangan.  Abi.

"Assalamualaikum," Abi mengucapkan salam sambil turun dari motornya.  Setelah salamnya dijawab ia langsung duduk di teras sambil membuka tas selempang cokelat bututnya.  Ia mengeluarkan hp.

"Bung, maaf ya. Tadi pagi anak saya ngutak-atik hp saya dan ngegame online.  Entah gimana photo antum yang tertidur itu, terkirim ke grup WA alumni.  Sekarang hp nya tidak bisa hidup, mati total dari tadi.  Boleh ndak saya kembalikan hp ini ke antum.  Saya tidak jadi beli dah.  Ternyata berhutang berat.  Tentang uang muka yang dua ratus ribu itu, antum ganti kapan saja antum punya," kata Abi.

Ibung memandang Ustadz Fakih.  Mulutnya terbuka tanpa sadar.  Ustadz Fakih tersenyum penuh makna.(satunusa)

Facebook Google Twitter